job,chance,problem job,carier

Custom Search

Sabtu, 07 Maret 2009

BILAL biasa dipanggil BIL tamatan Fakultas Teknik sudah menyandang gelar Pencaker 6 bulanan. Cita-citanya untuk mendapatkan gelar Insinyur kandas ditengah jalan. ST pun diterimanya tanpa kepuasan.

Sarjana Teknik, wah terkesan luar biasa sekali, maklum kuliah disitu sangat sulit. Bila keluar pasti orang mengira akan mudah mendapatkan pekerjaan. Bil memang sering juga ikut proyek-proyek singkat, tapi dirasa itu semua tidak menjamin dirinya. Short Projek hanya menmbantu mengisi pundi-pundi keungan sementara waktu. makanya ia merasa dirinya belum bekerja, masih pengangguran. Belum mendapatkan pekerjaan yang menjamin kesejahteraan masa depannya.

Setiap ada lowongan dan kesempatan ia selalu berusaha melamar. Dengan harapan akan memperoleh pekerjaan yang dia idamkan. Tak melenceng jauh dari jurusan.

Koleksi mainan alat berat begitu banyak di rumahnya. Mungkin ini sebagai hiburan dalam hidupnya. Helem proyek pun jadi barang berharga buat di koleksi. Beberapa terlihat tergantung apik di dinding kamar. Helem plastic kuning dan putih. Tampak kalau helm sudah pernah digunakan. Mungkin bagi dirinya memiliki kenangan tersendiri.

Foster besar dirinya dengan helem putih berkemeja terlihat keren banget. “Ini Bil, gue pingin banget seperti ini.”

Gak ada yang salah sih, dengan kemampuannya yang lumayan blasteran Arab Melayu ini cukup cerdas. tapi kondisi sekarang untuk mendapatkan pekerjaan cukup sulit apalagi untuk posisi yang strategis dan tepat. Keinginan memang setinggi langit tapi kemampuan dan kesempatan kita terbatas.

Lamaran sudah banyak beterbangan ke berbagai perusahaan namun sebagian besar tak ada respon, beberapa mendapat panggilan interview dan berakhir dengan kegagalan.

Rasa kecewa dan prustatasi jelas ada. Rasa bosan melamar mulai tumbuh dalam dirinya, itu semua tentu akan merusak masa depan. “Grey life” juga mulai dirasakannya, tak terjadi perubahan besar dalam hidup. Hidup membosankan. “Aku sebenarnya, lebih suka nyangkul daripada nganggur!.” Kata-kata ini sempat terlontar dari mulutnya.

Ternyata pengangguran dirasa menjadi beban hidup yang begitu berat. Tak ada enaknya jadi pengangguran. Hidup tak menggairahkan.

“Apakah anda salah seorang dari sekian banyak orang dimuka bumi ini dengan posisi sebagai pengangguran saat ini, atau anda penganguran terselubung yang menganggap diri anda sebagai pengangguran.” TETAP SEMANGAT!”

Terlihat jelas tulisan itu dibalik pintu kamar Bil.

***

ESTRO, ES memilih Fakultas Kehutanan. Jurusan yang langka dangan lapangan kerja yang jarang pula. Mencoba mencari alternative pilihan hidup yang lain, berharap bisa memenuhi segala impiannya.

Kondisi Kehutanan yang hancur menimbulkan banyak pengangguran. Perusahaan-perusahan besar banyak yang bekerja enggak beres dan berhakhir dengan kebangkrutan. PHK dimana-mana lapangan kerjapun mulai terasa sulit. Mulailah mereka merambah kota-kota untuk mencari pekerjaan lain. Leasing, marketing dan masih banyak lagi . Hidup harus pleksibel. Memang enggak profesional tapi kita bisa tetap makan.

“Temen temen bilang kita ini murtad, sudah banyak yang murtad, kerja bukan dalam bidangnya. Tapi memang sudah jamannya, sekarang gelar bukan apa-apa lagi tidak jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus”.

Jauh dihati yang dalam hidup terasa begitu berat, semakin terasa tak berarti, apa ada yang salah dengan hidup ini. “Apa salah jurusan? Sesekali timbul pertanyaa di hati Es.

Tujuan kerja pada awalnya mungkin mencari uang. Tapi harus juga mendapatkan kepuasan. Hari demi hari gak mungkin dilalui dengan stress menunggu dan menunggu pekerjaan yang dirasa pantas dengan pendidikan.

Badan Es yang kurus, rambut bersisir, dan pakaian rapi tampak telah terjadi perubahan besar, sekarang Es sudah menjadi pencari kerja. Mahasiswa tampilan begitu lusuh rambut gondrong dan jarang mandi. Gak pernah terlihat kemeja masuk kedalam celana panjang dengan lipatan setrika yang begitu jelas. Awalnya semua itu dirasa sangat janggal, namun karena tuntutan dan kebiasaan sudah tidak canggung lagi. Gaya yang eksentrik berubah bak seorang bapak yang mau rapat kantoran.

Kondisi kehidupan yang sederhana memaksa Es harus sesegera mungkin mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan hal yang gampang, banyak sudah Lamaran yang diantar pak pos sbagai harapan dipertaruhkan.

Setiap kali Pak pos datang hati terasa begitu gembira, meskipun yang datang hanya surat tagihan, atau surat untuk yang lainnya. Pak Pos sat itu menjadi idola bagi para pelamar dijamannya, begitu dekat dan sangat akrab. Tak ada seorangpun yuang sebahagia ketika Pak Pos datang. Beruntung sekali kerja jadi tukang pos, banyak ditunggu dan disukai mereka.

Begitu juga dengan bunyi HP terasa begitu indah meskipun yang terjadi hanya salah sambung, menanyakan hal sepele yang menggelikan. Karena hidup penuh harapan maka terasa bahagia. Andai saja hidup ini kosong tanpa harapan tentu kita tak memiliki gairah.

Mental Es sudah terlatih, boleh boleh karena tempaan dari kegiatan ospek mahasiswa baru, masih membekas. Banyaknya kegiatan ospek sangat berpengaruh terhadap mentalnya. Apa mungkin kegiatan itu sudah dipersiapkan untuk menjalani kehidupannya jadi pengangguran.

Suara-suara yang mengganggu dan kondisi lingkungan tidak mampu membuat dirinya luluh begitu saja. Es tetap Es penuh percaya diri sulit terpengaruh. Keteguhan hati dn ketekunan begitu mengesankan teman-temannya. Dalam pergaulanpun mudah diterima orang.

Dengan berpegang prinsif “SUKSES atau BELAJAR” tak kenal menyerah. Baginya kegagalan itu hanya sebuah pelajaran. Dia akan menjadikannya sebagai pengalaman berharga untuk meningkatkan kearah yang lebih baik.

Dia senang bergurau, seperti yang diungkapnya;

“Kalo superman ngangur enak juga bisa terbang!

Kalo superboy nganggur juga masih muda ganteng lagi!

Kalo wonder women, nganggur juga enak banyak yang mau!”

“Tapi kalau kita yang nganggur wah jelek banget, dunia jadi sempit teman-teman jadi jauh dan sedikit.”

“Wah ngayal memang enak tapi lapar baru tahu!”

Tapi gak apa-apa kan semuanya gratis.”

Hidup sepertinya bukan beban, tapi begitu indah untuk dinikmati. Rugi banget memang jika harus terpuruk dalam kondisi stress karena keadan. Masih banyak orang-orang yang mengalami kondisi lebih buruk. lihat saja di Afganistan peperangan belum juga usai, Afrika kelaparan masih terjadi. Kalau cuma pengangguran itu kan bisa diatasi.

Dalam kesehariannya di waktu senggang digunakan untuk mengurusi kegemarannya. Mengkoleksi aneka aksesoris dan poster Kereta Api. “Aku menyenangi gambar ini.

Kereta api bagi Es sangat unik dan memiliki nilai history yang tinggi. Dari dulu kendaraan ini sudah ada malah sudah ada sejak jaman Belanda. Perkembangannya pun semakin canggih.

Berbagai aksesoris dan baju berlogo Kereta dia koleksi. Sesekali ia pakai baju berlogo Kereta untuk menunjukan identitasnya. Begitu bangga dengan apa yang dimilikinya.

Apa mungkin dia dulu ingin jadi seorang masinis. Tapi ada hubungannya kok. Dalam hutan juga sering menggunakan kereta untuk kebutuhan sarana pengangkutan kayu. Lihat saja di hutan-hutan jati.

Virus-virus pengangguran semakin merajalela berusaha menggerogoti tidak hanya mereka. Jika kondisi mereka lemah dan tidak fit tentu akan mudah sekali terjatuh sakit. dari berbagai penjuru virus berusaha merusak kekebalan mereka. Virus sialan yang harus segera disingkirkan.

Susah banyak yang menjadi korban dari virus-virus ini. Kondisi pengangguran yang sulit memudahkan virus ini masuk dan berusaha membunuhnya.

---------------***************--------------

JOEL dia tamatan ekonomi, Jo panggilan kerennya, gelar sarjana ekonomi (SE), hanya menyiksa dirinya. Membebani setiap langkah dan menghambat kesuksesannya.

Meskipun dari keluarga berada dengan kondisinya telah beberapa bulan menjadi pengangguran ia merasa kehilangan arah hidupnya. Makan memang enggak sulit, tetapi harga dirinya tetrasa terkoyak- koyak.

Sorot matanya yang tajam terlihat begitu antusias untuk setiap hal. Meskipun kondisi saat ini membuat dia sedikit stress. Kesetaraan terasa hilang, pergaulan semakin menyempit. Semua terasa menjauh jauh dan sangat jauh.

Hari demi hari ia habiskan untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan kerja, kesana kemari untuk mendapatkan kerjaan seperti yang dicita-sitakannya. Keberhasilan sepertinya belum berpihak. Kecakapan dan dan keilmuan terasa sangat kurang, sementara tuntutan begitu tinggi.

Sulit, sulit sekali dengan berbekal ilmu setengah-setengah gak ada yang membutuhkan. Semua perusahaan menjual mahal. Pasar lowongan terasa sangat mewah. Pemintaan begitu tinggi.

Kenapa? begitu sempitkah dunia ini sehingga pintu-pintu kesuksesan jauh tersembunyi. Begitu dalam hingga sulit menggapainya. Untung saja mental Jo sangat kuat, pantang menyerah itu semua sudah mendarah daging, apalagi dia seorang mahasiswa pencinta alam. Punya prinsip seperti “CLIMBER” tidak akan berhenti di sebuah puncak, dia kan terus mencari puncak-puncak yang lain. Dia tidak akan pernah puas dengan tantangan.

Badan yang tinggi besar dan atletis, sebenarnya sudah pantas sekali menduduki kursi paling enggak Manager. Rambutnya yang klimis sedikit ikal menambah keelokannya Sekilas memang orang gak bakalan percaya kalu dia seorang pengangguran. Dandanan yang selalu rapih, bersepatu dan selalu dipenuhi wewangian. Hobi nongkrongnya di warung kopi belum bisa ditinggalkan, lebih cocok kalau dia itu ikut wisata kuliner aja! kuliner warung kopi. Keluar dari rumah seperti orang yang mau kerja. Pergi pagi pulang sore. Hidupnya terlihat sepertinya tak ada masalah. Kepintaran menyembunyikan sesuatu dan mengendalikan mentalnya sangat berarti dalam menyikapi kondisi kehidupan seperti ini.

Beberapa lamaran kerja memang sudah ia kirim, tapi tak satupun yang dapat tanggapan. Apa mungkin amplopnya salah pilih warna, atau salah krim!.

Dalam angannya sampai hari ini ia selalu membayangkan dirinya seorang eksekutif muda. Lihat saja cara jalan dan ngomongnya. Apakah ini memang sebuah seni peran, atau keahliannya bersandiwara. tapi semua itu bukan. Bila kita lihat “Dream Book” yang ia miliki. Sebuah buku usang yang selalu dibawa kemana-mana. Didalam terpampang Photo mahasiswa dengan setelan jas memegang HP, seperti seorang eksekutif muda. Lembaran berikutnya ada Photo sebuah merci keluaran terbaru. Lembar ketiga ada rumah bsear, mewah yang ia dapatkan dari perpustakaan kampus. Sobekannya masih terlihat jelas. Semua jelas sudah, Gerakan dan fisiknya sudah dikendalikan kehidupan bawah sadarnya.

Antusias dan semangat membara selalu hadir dalam dirinya. tak ada yang bisa menghalangi dirinya. Mencoba itu lebih baik! kataya. Jo sebenarnya tidak terlalu cerdas di kampus dia lebih suka menyibukan diri dengan semua angan-anganyna. Kemapanan hidup selalu dicita-citakan.

“Gue gak mau setengah hidup gue dalam kesengsaraan!”

“Kebahagian harus lebih banyak dari kesengsaraan!”

Sudah banyak hal yang tercipta dimuka bumi ini, berbagai fasilitas hidup telah dibuat manusia. Memang semua yang diciptakan dimuka bumi ini untuk kepentingan manusia. Tapi untuk menikmatinya tidak gratisan.

“Aku pikir kalau orang lain bisa kita juga pasti bisa!”

MENGANGGUR?NO!

BEKERJA?YES

JOE mencoba menghibur dan memotivasi dirinya. Rasa letih akan hilang begitu saja. Semua baik-baik kepenatan akan berlalu tanpa terasa.

Berproses dalam kehidupan adalah sebuah tuntutan. Semua orang harus menempuhnya. Apa kita hanya akan berdiam diri dengans sebuah keadaan?. Bukankah hidup ini hanya sebuah panggung sandiwara? sseperti yang dilantunkan Akhmad Albar.

1

VIRUS SIALAN

“A FRUITLESS LIFE IS A USELESS LIFE”

HIDUP YANG TIDAK MENGHASILKAN APA-APA BERARTI HIDUP YANG TIDAK BERGUNA

JIKA ADA ORANG YANG BERTANYA,

PEKERJAAN APA SIH YANG DIBENCI TUHAN

DAN DI BENCI CALON MERTUA?

JAWABANYA JELAS PENGANGGURAN

Pengannguran virus sialan.

“JANGAN MENGANGGAP HIDUP INI SERIUS.

KARENA JIKA DEMIKIAN ANDA TIDAK AKAN MAMPU KELUAR HIDUP-HIDUP”

WARENT MILLER

Setiap hari kita selalu berdoa untuk kesuksesan dalam hidup ini. Ibu, Bapak, bahkan teman berusaha membantunya. Semua ingin melihat kita dalam kesuksesan.

“YA TUHAN BERILAH KAMI KEBAHAGIAAN HIDUP DI DUNIA DAN DIAKHIRAT!”

Sebuah doa selalu kita panjatkan untuk meambah kekuatan.

Setiap pagi kita menggunakan energi untuk menjemput impian kita. Rasa bosan dan malas harus dibuang jauh-jauh. Sebuah virus yang membawa kehancuran.

“BERSEMANGAT- BERSEMANGATLAH!!”

Sebagai manusia yang berakal dan lebih mulia kita harus memanfaatkan hidup ini. Waktu berlalu begitu cepat tak terasa, nikmatnya dunia telah memperdaya. Smentara kita belum berbuat apa-apa, belum memiliki yang bisa kita sumbangkan. Bagaimana jika akhir kelak anak cucu bertanya, Sebenarnya Kakek dulu ngapain aja?, Tak ada sedikitpun yang bisa kami dapatkan!!

Sekelompok orang dalam kemewahan dalam kepunyaan, hidup ingin lebih lama. Penderitaan hidup tak terasa membebani. Dunia terasa luas, masa depan begitu cerah.

Berbeda dengan yang dirasakan sekelompok pengangguran. lebih sulit, membosankan, menjijikan, GREY LIFE, madesu dan banyak hal-hal negative yang menyelimuti otak-otak mereka. Hidup kadang ingin segera berakhir.

Hidup penuh dengan beban, impian-impian tidak terwujudkan. Di punggungnya sebuah tulisan” AWAS PENGANGGURAN” begitu membayanginya, begitu burukah? dimata orang-orang disekitar.

Mungkin jika ditanya tak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin jadi pengangguran. Smua ingin produktif dengan kemapanan hidup. Tak ada yang ingin hidup menganggur dan dalam kemiskinan.

“Kami butuh sesuatu yang membuat kami hidup, butuh aktualisasi diri. Dimanapun kau berada kami akan datangi engkau, meskipun butuh pengorbanan, jiwa dan raga bisa kami serahkan, “ No gain withought pay!” Hidup memang kejam.

Kehidupan yang abu-abu “GREY LIFE” harus segera menyingkir. Sirna dari hadapan ku.

Pergi tinggalkan aku!” Orang tua berharap sekali agar kami menjadi anak-anak yan sukses. Ketika dunia ini sudah penuh dengan sifa-sifat materialistik terasa sekali kurang berharganya diri kita dalam ke tidakpunyaan tanpa kekayaan.

---------------***************--------------

SINOPSIS

Jo,Bil dan Es tiga (3) orang pemuda pengangguran. Mereka berupaya memperjuangkan hidupnya untuk meninggalkan status sebagai Jobless. Berbagai upaya dilakukan untuk mendpatkan pekerjaan dengan harapan mereka bisa berubah.

Pertemuan awal terjadi secara kebetulan. Saat mereka mendapat panggilan kerja sebagai Sales dari Perusahaan Kecil dalam sebuah ruko. Sebenarnya Jo sempat bertemu Bil di Kantor Pos sebelmnya, ketika ia hendak memasukan lamaran untuk sebuah perusahaan. Bil mengenal Jo namun ada keraguan, dalam pikirnya merasa kalau Jo itu teman lamanya, semasa SMP dulu. Tapi itu tak penting karena semuanya tinggal kenangan.

Ada perbedaan karakter dan latar belakang yang mencolok. Jo seorang Sarjana Ekonomi yang bermimpi menjadi seorang eksekutif, pengusaha muda sebenarnya cukup mampu. Secara pribadi ia memiliki kemampuan memimpin dan bekerja dengan baik. namun dia bukan seorang eksekutor yang baik. Dengan pendidikan yang diraihnya hanya menambah beban bagi hidupnya.

Lain halnya dengan Bil tamatan Teknik Sipil, begitu dingin penampilannya dan sangat perfeksionis. Kekakuannya memperlihatkan kalau dia seorang eksakta. Menjadi kepala proyek sudah diimpikannya sejak dulu, tercermin sudah dari gerakannya dan usahanya. Sebuah photo ukuran jumbo yang terpampang dikamarnya merupakan gambaran dimasa depannya. Kemeja putih berkerah, Celana jin Levis biru dengan helm proyek putih dan sepatu Cat begitu berwibawa. Sepertinya benar-benar semua itu sudah diraihnya. koleksi-koleksi alat berat pribadinya hanya membuat dunia ini semakin sempit.

Berbeda dengan Es tampilannya yang sedikit eksentrik begitu menginginkan bekerja di NGO luar yang cukup besar. Dia merasa hidupnya akan lebih berarti jika dia memiliki kebebasan untuk berbuat lebih. Namun kondisi hidupnya yang sederhana memaksa dia untuk segera mendapatkan pekerjaan. Kondisi keuangan yang pas-pasan tidak bisa dipertahankan. Semua impiannya harus ditunda guna mendahulukan tuntutan perutnya.

Dalam kondisi yang sulit Jo, Bil dan Es akhirnya menjadi sahabat, bukan sekedar sahabat. Sales telah mempererat hubungan satu sama lainnya. Pengalaman kerja pertamanya membuat mereka sadar untuk sebuah kehidupan. Tak ada yang mudah tak ada sesuatu yang gratis dalam hidup ini. “No gain without pay!”

Persahabatannya berlanjut dengan keinginan bersama untuk memperjuangkan hidup. Keputusan terakhirpun diambil kontrak kesepakatan dibuat, mereka harus hijrah dari kota kelahirannya. Jakarta dijadikan tempat tujuan, tempat dimana sebuah harapan digantungkan.

Surat lamaran kerja mereka tebarkan, photo diri mereka iklankan, semua mdia dan Koran dimanfaatkan. Sebuah usaha yang tak kenal lelah.

Perjalanan tak semulus bayangan. Lowongan kerja yang banyak bukan berarti dengan mudah kita dapat bekerja. Berbagai kejadian menggelikan, kocak dan menyedihkan terjadi dalam keseharian. Mulai dari cara mencari lowongan, membuat lamaran bahkan ditemukannya ijazah mereka dari seorang pedagang, seorang tukang gorengan.

Kesepian, kerinduan, bahkan kesedihan datang silih berganti, seolah tak puas memberikan ujian untuk masa depan. Belum cukupkah lima tahun dikampus.

Namun sikap mental yang gigih dan pantang menyerah membuat mereka tetap hidup dan bersemangat. Mereka terus berusaha untuk mengakhiri masa-masa sulit itu.

“MERDEKA ATAU MISKIN!”

TheJOBLESS The Grey

TheJOBLESS The Grey Future merupakan sebuah novel yang diangkat dari sebagian kisah nyata, kejadian sehari-hari yang bisa kita temui. Sebuah kondisi mental 3 orang sarjana yang tidak bekerja. Masa depan terasa suram (GREY), kesempatan semakin sempit. Kemana mereka harus melangkah? Apakah dunia tidak tahu kalau mereka bisa bekerja!

Dengan sedikit sentuhan kata mutiara mencoba memotivasi. Diharapkan mampu memberikan semangat dan dukungan moral agar lebih produktif, pleksibel dan kreatif. Tak ada yang lebih penting selain semangat dan kerja keras.

Pengangguran merupakan masa sulit, masa suram, tapi bukan berarti mereka harus mengalah. Kondisi harus dilawan dan di patahkan. Banyak jalan lain menuju kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.

Saya berharap novel ini bisa memberikan manfaat bagi kita sehingga menjadikan bahan pembelajaran dalam hidup. Bagi yang sudah dan lagi bekerja diharapkan mampu mendukung orang-orang dalam kondisi sulit ini, bukan memojokan atau membuat mereka kehilangan harga diri.

Sedikit kocak dan konyol dibuatnya agar kita tidak terlalu serius menyikapi persolan ini. Tapi serius dalam memberikan bantuan secara moral.

Tokoh Jo, Bil dan Es hanya sebuah simbol dari sebagian kecil yang mungkin pernah kita temui dalam kehidupan nyata. Mereka pemuda-pemuda yang optimis dengan masa depannya walaupun mengalami kondisi sulit yang berkepanjangan.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
I like any adventure