JOEL dia tamatan ekonomi, Jo panggilan kerennya, gelar sarjana ekonomi (SE), hanya menyiksa dirinya. Membebani setiap langkah dan menghambat kesuksesannya.
Meskipun dari keluarga berada dengan kondisinya telah beberapa bulan menjadi pengangguran ia merasa kehilangan arah hidupnya. Makan memang enggak sulit, tetapi harga dirinya tetrasa terkoyak- koyak.
Sorot matanya yang tajam terlihat begitu antusias untuk setiap hal. Meskipun kondisi saat ini membuat dia sedikit stress. Kesetaraan terasa hilang, pergaulan semakin menyempit. Semua terasa menjauh jauh dan sangat jauh.
Hari demi hari ia habiskan untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan kerja, kesana kemari untuk mendapatkan kerjaan seperti yang dicita-sitakannya. Keberhasilan sepertinya belum berpihak. Kecakapan dan dan keilmuan terasa sangat kurang, sementara tuntutan begitu tinggi.
Sulit, sulit sekali dengan berbekal ilmu setengah-setengah gak ada yang membutuhkan. Semua perusahaan menjual mahal. Pasar lowongan terasa sangat mewah. Pemintaan begitu tinggi.
Kenapa? begitu sempitkah dunia ini sehingga pintu-pintu kesuksesan jauh tersembunyi. Begitu dalam hingga sulit menggapainya. Untung saja mental Jo sangat kuat, pantang menyerah itu semua sudah mendarah daging, apalagi dia seorang mahasiswa pencinta alam. Punya prinsip seperti “CLIMBER” tidak akan berhenti di sebuah puncak, dia
Badan yang tinggi besar dan atletis, sebenarnya sudah pantas sekali menduduki kursi paling enggak Manager. Rambutnya yang klimis sedikit ikal menambah keelokannya Sekilas memang orang gak bakalan percaya kalu dia seorang pengangguran. Dandanan yang selalu rapih, bersepatu dan selalu dipenuhi wewangian. Hobi nongkrongnya di warung kopi belum bisa ditinggalkan, lebih cocok kalau dia itu ikut wisata kuliner aja! kuliner warung kopi. Keluar dari rumah seperti orang yang mau kerja. Pergi pagi pulang sore. Hidupnya terlihat sepertinya tak ada masalah. Kepintaran menyembunyikan sesuatu dan mengendalikan mentalnya sangat berarti dalam menyikapi kondisi kehidupan seperti ini.
Beberapa lamaran kerja memang sudah ia kirim, tapi tak satupun yang dapat tanggapan. Apa mungkin amplopnya salah pilih warna, atau salah krim!.
Dalam angannya sampai hari ini ia selalu membayangkan dirinya seorang eksekutif muda. Lihat saja cara jalan dan ngomongnya. Apakah ini memang sebuah seni peran, atau keahliannya bersandiwara. tapi semua itu bukan. Bila kita lihat “Dream Book” yang ia miliki. Sebuah buku usang yang selalu dibawa kemana-mana. Didalam terpampang Photo mahasiswa dengan setelan jas memegang HP, seperti seorang eksekutif muda. Lembaran berikutnya ada Photo sebuah merci keluaran terbaru. Lembar ketiga ada rumah bsear, mewah yang ia dapatkan dari perpustakaan kampus. Sobekannya masih terlihat jelas. Semua jelas sudah, Gerakan dan fisiknya sudah dikendalikan kehidupan bawah sadarnya.
Antusias dan semangat membara selalu hadir dalam dirinya. tak ada yang bisa menghalangi dirinya. Mencoba itu lebih baik! kataya. Jo sebenarnya tidak terlalu cerdas di kampus dia lebih suka menyibukan diri dengan semua angan-anganyna. Kemapanan hidup selalu dicita-citakan.
“Gue gak mau setengah hidup gue dalam kesengsaraan!”
“Kebahagian harus lebih banyak dari kesengsaraan!”
Sudah banyak hal yang tercipta dimuka bumi ini, berbagai fasilitas hidup telah dibuat manusia. Memang semua yang diciptakan dimuka bumi ini untuk kepentingan manusia. Tapi untuk menikmatinya tidak gratisan.
“Aku pikir kalau orang lain bisa kita juga pasti bisa!”
MENGANGGUR?NO!
BEKERJA?YES
JOE mencoba menghibur dan memotivasi dirinya. Rasa letih akan hilang begitu saja. Semua baik-baik kepenatan akan berlalu tanpa terasa.
Berproses dalam kehidupan adalah sebuah tuntutan. Semua orang harus menempuhnya. Apa kita hanya akan berdiam diri dengans sebuah keadaan?. Bukankah hidup ini hanya sebuah panggung sandiwara? sseperti yang dilantunkan Akhmad Albar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar