Jo,Bil dan Es tiga (3) orang pemuda pengangguran. Mereka berupaya memperjuangkan hidupnya untuk meninggalkan status sebagai Jobless. Berbagai upaya dilakukan untuk mendpatkan pekerjaan dengan harapan mereka bisa berubah.
Pertemuan awal terjadi secara kebetulan. Saat mereka mendapat panggilan kerja sebagai Sales dari Perusahaan Kecil dalam sebuah ruko. Sebenarnya Jo sempat bertemu Bil di Kantor Pos sebelmnya, ketika ia hendak memasukan lamaran untuk sebuah perusahaan. Bil mengenal Jo namun ada keraguan, dalam pikirnya merasa kalau Jo itu teman lamanya, semasa SMP dulu. Tapi itu tak penting karena semuanya tinggal kenangan.
Lain halnya dengan Bil tamatan Teknik Sipil, begitu dingin penampilannya dan sangat perfeksionis. Kekakuannya memperlihatkan kalau dia seorang eksakta. Menjadi kepala proyek sudah diimpikannya sejak dulu, tercermin sudah dari gerakannya dan usahanya. Sebuah photo ukuran jumbo yang terpampang dikamarnya merupakan gambaran dimasa depannya. Kemeja putih berkerah, Celana jin
Berbeda dengan Es tampilannya yang sedikit eksentrik begitu menginginkan bekerja di NGO luar yang cukup besar. Dia merasa hidupnya akan lebih berarti jika dia memiliki kebebasan untuk berbuat lebih. Namun kondisi hidupnya yang sederhana memaksa dia untuk segera mendapatkan pekerjaan. Kondisi keuangan yang pas-pasan tidak bisa dipertahankan. Semua impiannya harus ditunda guna mendahulukan tuntutan perutnya.
Dalam kondisi yang sulit Jo, Bil dan Es akhirnya menjadi sahabat, bukan sekedar sahabat. Sales telah mempererat hubungan satu sama lainnya. Pengalaman kerja pertamanya membuat mereka sadar untuk sebuah kehidupan. Tak ada yang mudah tak ada sesuatu yang gratis dalam hidup ini. “No gain without pay!”
Persahabatannya berlanjut dengan keinginan bersama untuk memperjuangkan hidup. Keputusan terakhirpun diambil kontrak kesepakatan dibuat, mereka harus hijrah dari
Perjalanan tak semulus bayangan. Lowongan kerja yang banyak bukan berarti dengan mudah kita dapat bekerja. Berbagai kejadian menggelikan, kocak dan menyedihkan terjadi dalam keseharian. Mulai dari cara mencari lowongan, membuat lamaran bahkan ditemukannya ijazah mereka dari seorang pedagang, seorang tukang gorengan.
Kesepian, kerinduan, bahkan kesedihan datang silih berganti, seolah tak puas memberikan ujian untuk masa depan. Belum cukupkah
Namun sikap mental yang gigih dan pantang menyerah membuat mereka tetap hidup dan bersemangat. Mereka terus berusaha untuk mengakhiri masa-masa sulit itu.
“MERDEKA ATAU MISKIN!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar